"Ih jijik banget nih dosen lama-kelamaan" ujar beberapa mahasiswi UIN Raden Mas Said Surakarta kepada dosen tersebut. Bahkan oknum dosen mencoba untuk merayu hal-hal yang tak biasa dengan mengatakan "Tangan kamu kok putih banget" dan lain-lain berbentuk menyebut fisik. Segala kehalalan yang dianggap boleh dilakukan malah menjadi bumerang di mahasiswi dan mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta. Seolah-olah ini adalah hal yang lumrah di pembicaraan dosen pada lingkungannya. Kasus ini menjadi sangat hangat di kalangan UIN Raden Mas Said Surakarta pada beberapa hari yang lalu. Bahkan media seperti tribun news ikut menyoroti persoalan ini di instagramnya @tribunnews. Tentu tidak dengan narasi edukasi hanya menginformasikan saja.
Alih-alih mendapat perhatian khusus, banyak komentar negatif muncul di intagram @tribunnews seakan-akan kampus UIN tak layak untuk dijadikan tempat belajar atau meraih gelar sarjana dan pasca sarjana. Dosen yang dimaksud merupakan pindahan dari FUD atau Fakultas Usuluddin dan dakwah berpindah di FEBI atau Fakultas Ekonomi Bisnis Islam. Tentu sangat memprihatinkan seharusnya dosen hanyalah seorang pelajar membantu proses belajar mahasiswa justru menjadi pelecut pelecehan kekerasan seksual yang tak aman bagi mahasiswa dan mahasiswi.
Lalu apa yang dicari oleh dosen tersebut? kecantikankah? atau apa sih?. Bila memang dicari adalah kecantikan harusnya melihat kondisi dan situasi yang tak seharusnya dilakukan. Alhasil, nafsu liarnya akan menjadi-jadi seolah-olah baik-baik saja. Mungkin kecantikan dan ketampanan merupakan anugerah tuhan dan sifatnya relatif. Semua orang bisa menilainya. Tetapi kalau memasuki hal diluar batasan maka yang terjadi kebuasan layaknya singa dalam perkumpulan hewan bukan?. Malahan di postingan instagram @uinstroy menyebut rektor UIN Raden Mas Said Surakarta cuman nyuruh minta maaf pelaku bagi sang korban?
Apa tidak salah dengar ya?. Maka dari hawa nafsu yang tidak bisa kita kendalikan maka akan buas melahap para korban yang tak bersalah. Malahan menormalisasikan kebiasaan tersebut sebagai hal yang wajar. Ini sungguh parah mengingat pelecehan seksual seharusnya dihentikan secara keadilan tapi dianggap hal sepele layaknya anak kecil meminta maaf terhadap orang dewasa. Bagi mereka biasa dilingkungannya, bagi orang lain belum tentu dianggap biasa.
Pelajaran kasus ini adalah kita harus mengambil sikap terhadap orang lain. Mana yang tak perlu diutarakan dan mana yang boleh diutarakan. Tahu mana batasan yang perlu digauli oleh setiap karakter setiap masing-masing manusia. Jangan sampai kasus ini seperti anak kecil nangisan. Perlu disikapi dengan tegas dan adil demi kenyamanan Lembaga Pendidikan. Kampus atau pendidikan lainya juga perlu menindaklanjuti hal-hal yang menciderai marwahnya.
Kalau tidak lama-kelamaan nama baik kampus dan lembaga pendidikan lainya selamannya akan tercoreng dari orang-orang awam yang ingin belajar menimbu ilmu. Teruslah kritik dan saran untuk kebaikan bersama. Jangan jadikan kampus menjadi rumah predator. Hilangkan negatifisme yang terus menyalahkan lembaga pendidikan. Yuk jangan predator berkeliaran terus menerus. Salam keadilan !!
Komentar
Posting Komentar