Sebentar lagi kita akan merayakan hari santri nasional secara serentak baik di sekolah, pesantren, Universitas bahkan Nahdlatul Ulama turut memberikan hadiah tersendiri yang sekaligus spesial perjuangan KH Hasyim Asy’ari Bersama rombongannya. Namun disini saya tidak menjelaskan spesifik perjalanannya kaum santri melawan penjajah ya melainkan bercerita mengenai jejak menjadi santri di Pondok Pesantren Dimana pun berada.
Saya nyantri di 3 tempat Pondok Pesantren Tokoh Kyai yang berbeda-beda karakternya. Pertama di Pondok Pesantren Manba’ul Hikmah Al-Azieziyah yang didirikan oleh Alm KH Abdul Aziez Mahfudz. Kala itu ia menjadi Tokoh Nahdlatul Ulama sebagai Rois Syuriah. Selain ia juga menjadi Pengasuh Pondok Pesantren, Kyai Aziz ini atau disapa Buya pernah menjadi Ketua umum MUI Wonogiri, Pengasuh KBIH Manba’ul Hikmah. Kyai Aziz dikenal sangat lembut dalam menyampaikkan, bijaksana dalam bertindak maupun perkataan, mempunyai kemampuan Suara bagus dalam melantunkan sholawat dan membaca Al-Qur’an.
Pernah suatu Ketika Kyai Aziz menakzir ( memberi hukuman) kepada santri dengan membedakkan antara santri baru dan santri lama. Alhasil ia memberikan hukuman enteng dengan santri baru berupa menegurnya saja. Sementara santri lama terkadang ia memberi hukuman lari-lari, membersihkan kamar mandi. Sesuai hukuman apa yang santri jalankan. Saya belajar banyak dari Kyai aziz yakni : bisa sabar menghadapi segala Solusi, dan mudah menjalankan amalan baik sesuai perintahnya, serta bisa memberi contoh yang baik untuk hormat kepada para Ustadz-Ustadznya.
Disamping itu ada anaknya Bernama Gus Ridhlo Al-Murtadhlo yang sekarang mengantikan perannya Kyai Aziz. Gus Ridhlo membentuk kepribadian saya untuk tegas dalam perbuatan, dan tentunya memberikan contoh untuk belajar adab terhadap para guru. Ia juga tak segan memarahi santrinya Ketika melanggar aturan. Yang paling penting adalah bisa mengaji Al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai ilmu Tajwid. Karena melihat kedua tokoh ini juga pernah nyantri di Pondok Pesantren Pandanaran, Sleman, Yogyakarta. Sama sekali saya tidak takut baca Al-Qur’an salah sedikit pun atas bimbingan para Guru di Pondok Pesantren Manba’ul Hikmah.
Kedua yakni Pondok Pesantren Fadlun Minalloh dibawa pimpinan KH Muhammad Katib Masyhudi seorang Ulama yang khas mengkritik para penghafal Al-Qur’an. Kyai Katib dikenal sangat sederhana sekali dalam pakain dan perbuatan. Cerdas dalam pembawaannya Ketika mengisi ngaji kitab Dimana saja. Pokoknya apa adannya sekali. Dari sini saya belajar 3 hal membawa kepribadian saya. Pertama metode nahwu shorof yang sangat mudah dipahami semua kalangan. Ia juga membuat buku teori nahwu agar para santri-santrinya paham dalam mempelajari nahwu shorof.
Kedua keberanian dalam mengisi acara. System Pondok Pesantren dalam hal Muhaddoroh ( Khitobah) semacam acara kecil-kecilan ini membentuk saya lebih berani entah mengisi acara MC, Sholawatan, Sambutan, Mauihdoh Hasanah. Bagi saya Kyai Katib inilah yang secara otomatis membentuk diri saya supaya santri bisa ngisi apa saja. Pernah suatu Ketika saya ikut ngaji kepada Kyai Katib di rumah wali santri ( saya lupa namannya hari, tanggal dan tahunnya) berkata “ Santri Niku kudu saget nopo mawon, ngaji saget, ngisi sambutan saget, ceramah saget ben sesok mben nek wes dadi tokoh ora degdegan, seng penting santri isoh ngaji syukur-syukur ngamalke” ( “Santri itu harus bisa apa saja, ngaji bisa, ngisi sambutan bisa, ceramah bisa biar suatu saat nanti Ketika jadi tokoh tidak gemeteran, yang penting santri bisa ngaji Syukur-eyukur mengamalkannya”).
Ketiga adalah kesederhanaan yang mungkin sulit saya capai sampai saat ini. Tetapi setidaknya saya pernah mencoba dalam beberapa hal termasuk tidak mementingkan duniawi. Pondok pesantren Ketiga adalah Al-Hikmah, Sraten, Gatak, Sukoharjo, Jawa Tengah. Mungkin ini salah satunya Pondok Pesantren memberi Pelajaran bagi saya bahwa hati adalah kunci kehidupan sukses dunia akherat. Karena pondok ini merupakan pondok yang mempunyai jiwa Tassawuf seperti halnya para Thoriqot pada umumnya. Memiliki program dzikiran dengan memejamkan mata setiap habis subuh. Kemudian memiliki program Khalwat pada saat liburan pondok.
Mempunyai pengasuh Bernama Kyai Miftahul Huda sosok guru membimbing saya dalam hal tassawuf. Sampai benar-benar merasakan hakikat tassawuf walau hampir selalu gagal dalam penjiwaan saya. Nilai-nilai pesantren inilah membentuk saya untuk terus memuliakkan Kyai, Habaib ataupun orang berilmu agar ilmunya manfaat sampai akhir hayat. Tanpa mereka saya bukan apa-apa temen. Yakin deh saya nggak bisa multifungsi bisa memahami segi agama melalui persoalan yang ada pada sekarang. Saya percaya pesantren adalah jalan menuju kesuksesan santri dalam memperjuangkan agama di jalan Allah swt.
Dari pesantren saya belajar banyak hal tentang makna kehidupannya, bagaimana cara komunikasi baik dan sopan kepada yang lebih tua. Pesantren mengubah saya untuk tetap memaksimalkan karakteristik melalui penekanan amalan batiniah. Selamat hari santri nasional bagi kaum santri pernah nyantri di Pondok Pesantren dan bagi merayakkannya. Semoga kedepannya melahirkan tokokh-tokoh agamawan dari kalangan santri Pondok Pesantren.
Ahmad Zuhdy Alkhariri
Penikmat Air Putih Tapi bukan Le Minerale

Komentar
Posting Komentar