Langsung ke konten utama

Eksistensi Muslim Perumahan Korpri : Bagian Pertama

 

Jama'ah Masjid Nurul Huda

Islam menjadi agama mayoritas ditengah perbedaan sudut pandangan yang khas setiap RT maupun RW masing-masing di Perumahan Korpri, Gayamsari, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Warga disini kebanyakkan memiliki pekerjaan layak seperti PNS, Pejabat Negara, PDAM, Polisi, maupun Tentara hampir rata-ratanya. Walaupun setidaknya ada 40 persen memilih untuk tidak bekerja di Pegawai Negeri Sipil. Mereka menganggap bahwa bekerja di pemeritah lebih realistis dari pada bekerja di luar pemerintah gajinya segitu-gitu saja.

Namun ditengah perbedaan pekerjaan warga Korpri juga memiliki sudut pandang agama berbeda-beda khususnya islam di berbagai kental. Masjid Nurul Iman misalnya memiliki presentasi Muhammadiyah sekitar 70 persen yang Dimana pengurusnya Muhammadiyah. Meskipun mereka tidak memperlihatkan eksistensinya. Setidaknya identitas Muhammadiyahnya masih terasa kental terutama perbedaan perayaan Idul Fitri maupun Idul Adha.

Masjid Nurul Huda memiliki presentase sekitar 50 persen pengurus menjabat di PKS bagian ibadah, PNS ataupun Partai Politiknya. Mereka juga sama tidak memperlihatkan namun cara penjelasannya dan pendekatannya pun sudah sangat terlihat terbukti ketua takmirnya merupakan kader PKS  bagian PNS dan Seksi Ibadahnya juga bagian ibadah. Katannya mereka masih memprioritas ideologi Ahlusunnah Waljama’ah sebagai sumbernya. Nyatannya tidak memperbolehkan amaliyah aswaja seperti Tahlilan, Sholawat Tarkhim dirasa tidak sesuai Masyarakat. Pendapat ini hanya berlaku satu orang, ketiganya tidak mempermasalahkannya. Mungkin karena internalnya belum kuat secara ilmu dan pengetahuannya.

Masjid Mu’jizat sulit ditebak tapi cara berpakaiannya hampir mirip orang-orang Salafi. Saya bisa mengkira-kirakan sekitar 50 persen Salafi. Berikutnya ada Masjid Al-Ikhlas memiliki rata-rata 70 persen orang-orang Salafi. Gaya Bahasa dakwahnya khususnya Khutbah Jum’ah mengunakan Muqqodamman Bid’ah sebagai landasan berpikirnya menyelaraskan antara kembalinya Al-Qur’an dan Hadits. Sama dengan Muhammadiyah. Bedannya mereka cenderung kaku dalam penyampaiannya. Pernah suatu Ketika saya sholat Terawih di Masjid Al-Ikhlas alhasil setelah selesai saya diceramahi “Tahlilan bagi saya Bid’ah. Tidak ada tuntunan Nabi Muhammad”. Kemudian saya tenangkan terlebih dahulu dan menjawab “Ace, Mic, Sound System niku njjeh bid’ah pak, Nabi Muhammad tak pernah melakukannya bahkan menyuruhnya”.

Lalu saya menjelaskan runtutan Tahlil Yasin” Coba njenengan baca Tahlilan, baca Yasin, itu termasuk bagian penggelan Ayat Al-Qur’an niku pak, Imam Syafi’I pernah mengatakan “ Membaca Al-Qur’an pada orang meninggal termasuk kesunnahan mendekati kewajiban, karena orang meninggal hanya menginginkan doa-doanya, sementara amal kita belum mampu menolongnya, karena Surga adalah rahmatnya Gusti Allah, artinya pengamalan doa khususnya Yasin tahlil termasuk bagian dari Al-Qur’an, kalau membaca tahlil yasin saja bid’ah apalagi membaca Al-Qur’an?, kita tidak tahu apakah ibadah kita diterima oleh Allah swt, karena apa yang dilakukan Rasulullah sebagai motivasi kita agar meninggalkan Api Neraka seperti beberapa penjelasan beliau disetiap haditsnya, hadits dan Al-Qur’an jangan dibaca tok pak, tapi dipahami, dihayati, diamalkan, itu kunci islam sejati”. Bapak tua itu langsung pergi dari masjid mendengar penjelasan saya.

Deket lagi ada Masjid baru mayoritas LDII. Karena masjidnya persis dengan rumah-rumah pada umumnya. Sehingga eksistensi LDII sudah mulai kelihatan. Deketnya lagi ada masjid Ar-Rosyid mayoritas juga berpegang Salafi. Inilah mengapa Masyarakat Korpri merupakan Masyarakat Majemuk tidak berpegang pada satu prinsip satu pandangan saja. Tapi mereka mengikuti banyak pengalaman khas agama secara perbedaan melekat setiap harinya.

Jadwal Sholat Ied Secara Bergantian

     Ada yang unik dari Eksistensi Islam  Perumahan Korpri adalah pergantian jadwal sholat Ied secara bergantian. Hal ini bertujuan meringankan beban semua elemen Masyarakat ditambah lebih efisien dalam pengoptimalan sholat Ied di Lapangan Korpri. Selain itu hasil Infaq digunakan untuk biaya masjid yang terjadwal tersebut. Jadi sama-sama menguntungkan belah pihak secara menyeluruh. Sulitnya terdapat satu Masjid Bernama Nurul Iman tak bisa dibantah dan disalahkan. Karena melihat 2 sudut pandang.

       Pertama pengurusnya berpegang teguh Kemuhammadiyahan. Dengan begitu Ketika Muhammadiyah berbeda terpaksa mereka melaksanakannya sendiri sesuai arahan Pusatnya. Kedua sudut pandang Ilmu Muhammadiyah mengunakan metode Hisab berpegang teguh pada Al-Qur’an. Hal inilah mendasari bahwa konsep Hisab merupakan konsep sesuai ajaran Al-Qur’an. Sedangkan Masjid-masjid lainnya mengikuti aturan pemerintah. Mengikuti pemerintah artinya memenuhi standarisasi warga untuk taat terhadap negara atau Bahasa kerennya Hubbul Watton Minal Iman. Memiliki makna cinta tanah air Sebagian dari iman hasil menisbatkan Hadits dan dilakoni oleh KH Wahab Hasbulloh.

            Fenomena ini menjadi sangat biasa dan warga sekitar sudah terbiasa dalam pandangan. Kebiasaan inilah akan terbiasa dalam sikap apa yang harus dilakukannya. Tugasnya pun digilir terutama mencari Imam dan Khotibnya, penyebaran Kotak Infaqnya, Pelantunan kalimat takbir idul Adha maupun Idul Fitri. Hikmahnya Masyarakat Korpri bisa saling belajar satu sama dengan sudut pandang berbeda-beda. Sekaligus menghargai satu sama lain.

         Walaupun Sebagian Masyarakat masih belum menerima perbedaan menjadi keindahan yang semestinya sudah dimaklumi oleh Masyarakat Korpri pada umumnya. Walau pada akhirnya perbedaan tidak pernah selesai berbagai alasan. Alasan paling utamannya terdapat kekauan pembahasan Islam menyeluruh. Alasan selanjutnya karena merasa tidak cocok atau tidak sesuai cara berpikirnya. Mungkin ini adalah pekerjaan berat bagi kalangan Muslim Perumahan Korpri.

Jadwal Pengajian Secara bergilir

            Menariknya lagi Ketika sudah menerapkan jadwal imam sholat Ied bergantian jadwal pengajian juga bergantian. Inilah perbedaan yang semakin terasa bila orang-orang terbiasa zona nyaman kini tak lagi nyaman. Jelas ini perkara susah mengingat perbedaan menjadi ancaman bagi warga Masyarakat. Alhamdulillahnya besar kemungkinan Masyarakat Korpri ada yang merasa acuh tak acuh, jadi tak masalah datang menikmati snack lalu meminumnya dengan nikmat.

            Dari hasil analisis saya berbincang Masyarakat Korpri malahan sikap acuh tak acuh merupakan sikap yang tidak terlalu fanatik terhadap masyakat. Mereka lebih leluasa mendengarkan kajian kalau baik diambil kalau salah tak perlu menyalahkan terang-terangan. Tentu kejadian di atas sangat luar biasa keadaan Masyarakat Muslim Korpri menikmati banyak tantangan termasuk perbedaan pandangan individualnya.

Terbiasa Guyon dengan Muslim dan Non Muslim

            Masyarakat Korpri  Muslim pada umumnya tak mempermasalahkan sikap baiknya terhadap non Muslim yang hidup berdampingan. Memakan nasi ditemani es Teh Khas Wedangan Hik Kemi obrolan agama tidak terlalu dipentingkan sama sekali. Sebagian Masyarakat yang saya temui mereka tahu posisi agama dan posisi hiburan. Mampu mengedepankan prinsip toleransi Tengah perbedaan agama. Bahkan didekat Masjid Nurul Huda ada warga non Muslim pun saling menyapa satu sama lain tak memperdulikan agamannya. Sayangnya hal semacam ini tidak terlalu diperhatikan dalam mimbar masjid sekitar. Urusan keimanan menjadi penyebab mereka sangat teguh terhadap pendirian.

            Saya juga pernah mengisi Kultum beberapa tahun lalu membahas tentang Toleransi. Hasilnya sama saja kokoh pendirian mereka. Saya menyadari betul apa yang mereka pelajari terlalu sempit pemikirannya sehingga kisah Nabi Muhammad saw tentang mengendong orang Tua Tuli Yahudi tak pernah didengarnya. Bahkan perjanjian Piagam Madinah pada zaman Rasulullah saw tak pernah dijelaskan Kembali berisikan tentang perjanjian toleransi antara kaum muslim dan non muslim terkait tanahnya jarang yang bisa menjelaskan.

( Tulisan Ini Hasil Observasi Penulis melihat fenomena masyarakat korpri sekaligus pernah wawancara sebagian warga sekitar)

 

Ahmad Zuhdy Alkhariri

Pegiat Literasi Islami

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MC

  Assalamualaikum wr wb  Alhamdulillahirobbil ' alamin Washolatuwassalamu 'Ala Sayyidina wa Maulana Muhammadin wa'lla 'allahi Sayyidina Muhammad Wasobih Ajma'ain Amma Ba'du ( Bila dalam acara lintas agama boleh diganti kalimatnya "Om Swastiastu Namo Budaya, Salam Sejahtera bagi kita semua" )  Pertama dan paling utama marilah kita panjatkan puji syukur atas kehadirat Allah swt yang telah memberikan kesehatan serta kesempatan dalam acara..... ( Boleh diganti kalimatnya menjadi Puji Tuhan yang maha esa telah memberikan kesehatan sehingga bisa berkumpul bersama dalam acara...., atau diganti kalimat lain sesuai keinginan MC dalam acara lintas agama) Tak lupa sholawat serta salam mari curahkan junjungan Nabi kita Nabi Muhammad saw telah membawa kita dari zaman kegelapan menuju terang benerang sampai zaman ini kita rasakan.. ( Boleh tidak disebutkan bila dalam acara lintas agama berbeda-beda. Karena menghormati semua kalangan agama) Disini saya / Kami selaku ...

Sambutan

  Assalamualaikum wr wb Alhamdulillahirobbil ' alamin Washolatuwassalamu 'Ala Sayyidina wa Maulana Muhammadin wa'lla 'allahi Sayyidina Muhammad Wasobih Ajma'ain Amma Ba'du (  Bila dalam acara lintas agama boleh diganti kalimatnya   "Om Swastiastu Namo Budaya, Salam Sejahtera bagi kita semua" )  Pertama dan paling utama marilah kita panjatkan puji syukur atas kehadirat Allah swt yang telah memberikan kesehatan serta kesempatan dalam acara..... ( Boleh diganti kalimatnya menjadi Puji Tuhan yang maha esa telah memberikan kesehatan sehingga bisa berkumpul bersama dalam acara...., atau diganti kalimat lain sesuai keinginan MC dalam acara lintas agama).  Tak lupa sholawat serta salam mari curahkan junjungan Nabi kita Nabi Muhammad saw telah membawa kita dari zaman kegelapan menuju terang benerang sampai zaman ini kita rasakan.. ( Boleh tidak disebutkan bila dalam acara lintas agama berbeda-beda. Karena menghormati semua kalangan agama).  Kami Selaku Sohibul ...