Terkadang kita lupa bahwa sholat bisa membawa dampak positif kehidupan sehari-hari. Dan hanya dianggap wajib saja secara hukum syarat sahnya. Alhasil melakukan sholat 5 waktu saja dalam sehari. Akibatnya kita tidak tahu dampak luar biasa pada sholatnya. Seolah-olah jika kita melakukan kewajiban semua masalah terselesaikan. Bahkan kita malahan tidak tahu sama sekali makna dibalik sholat itu seperti apa. Memandang sebagai ibadah biasa dilakukan umat islam saja.
Padahal sejak kecil kita diajarkan doa-doa sholatnya. Mulai membaca Bismillah kemudian membaca Al-Fatihah lalu disunnahkan membaca surat sunnah. Dilanjut saat berlutut membaca subhana robb’ial a’la wabihamdim. Sampai akhir sholat membaca Tahiyat. Terus menerus dituntut secara tertib. Bahkan membaca artinya secara keras. Sayangnya makna pembacaan sebatas suara saja. Akibatnya sholat hanya mengunggurkan kewajiban saja.
Parahnya banyak yang tidak menyadari bahwa tidak sholat akan mendatangkan siksa api neraka. Apakah sejak kecil tidak diberitahu sama sekali? Atau para guru takut kalau api neraka bahaya untuk anak-anak?. Jelas ini tantangan untuk keluarga yang mengerti tentang dampak sholat luar biasa mendapatkan manfaat khususnya santri setiap saat belajar agama.
Menurut Gus Faiz Abiyoso dalam You Tubenya Kajian Majmu’ Arbaul Roisal menjelaskan bahwa seharusnya santri setiap harinya mengaji dan mengerti tentang sholat sebaiknya juga mengajak keluargannya melakukan sholat seperti halnya menunaikan kewajiban sholat di Pondok Pesantren. Karena pada hakikatnya santri sebagai tuntunan kebaikan yang harus dijalankan Ketika dirumah. Sedangkan di Pondok pesantren sudah terbiasa Rabu (11/12/24).
Dan orang tua tidak perlu menghawatirkan anaknya di pesantren tentang kehidupannya. Setiap harinya juga bekerja memenuhi kewajiban anaknya. Jika orang tua mengamalkan sholat setiap harinya. Masalahnya orang tua selalu mengaitkan dunia ke dalam keluargannya. Akhirnya pondok selalu di kambing hitamkan kehidupannya seperti halnya keluarga lebih diprioritaskan.
Gus Faiz menilai hal itu keliru terhadap anaknya. Mereka merasa kehidupan keluarga jauh lebih penting dari kehidupan anaknya di Pondok Pesantren. Oleh sebab itu Gus Faiz menggaris bawahi faktor utama orang tua kepada anak dilandasi dengan niat semestinya ditunjukkan oleh Allah swt. Lebih mementingkan akhiratnya dari pada duniannya. Semakin orang tua memetingkan dunianya maka semakin pula akhiratnya menjauh.
Sama seperti sholat yang harusnya menjadi manfaat justru mendatangkan keburukan semata. Padahal Gus Faiz mengutip kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Al-Ghazali bahwasannya sholat jelas mendatangkan rezekinya tanpa ada rasa khawatir sekalipun. Dengan sholat hidup kita akan terasa nikmat dalam sebuah perbuatan dijanjikkan Allah swt rezekinya. Otomatis sholat bukan hanya kebutuhan melainkan kebersihan hati melakukan kebaikan. Sholat juga mendatangkan kemanfaatan berupa menjauhi mungkar dan nangkir. Terhindar dari sifat maksiat. Kuncinya adalah Takwa kepada Allah swt.
Maka dari itu kata Gus Faiz adalah Ketika para santri mengaji atau Tolabul ‘Ilmu ( Mencari Ilmu) khusus kepada Allah swt. Dari situlah hidayah akan muncul dihati kita masing-masing. Hatinya penuh kebersihan tanpa adannya rasa sombong dan dengki. Karena pada dasarnya bila kita melakukan kebaikan datanglah kemanfaatan. Kalau kita melakukan keburukan niscaya datanglah penyakit kira-kira begitu penjelasan Gus Faiz Abiyoso.
Tentu ini menjadi sangat penting bagi kehidupan santri belajar di Pondok Pesantren menerapkan ilmunya lingkungan Masyarakat. Biar manapun santri merupakan harapan Masyarakat memperbaiki akhlakul karimah menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan serta mengamalkan ajaran Nabi Muhammad saw.
Ahmad Zuhdy Alkhariri
Penikmat Air Putih

Komentar
Posting Komentar