Ust Firdaus Syauqi sedang Berkotbah pada selesai Sholat Terawih
Banyaknya ormas Muslim di daerah membuat para Masyarakat berbondong-berbondong mengikuti alur pergerakan yang mayoritasnya pengurus masjidnya sangat memperhatikan karakter Masyarakat agar tidak salah jalan katannya. Dengan begitu identitas ormas diyakini bisa memberikan dampak positif pada Masyarakat Korpri setempat. Akan tetapi Masyarakat juga memilah memilih tentang sudut pandang seorang organisatoris Masyarakat Muslim berbeda.
Masyarakat Korpri berpandangan mengikuti alurnya mungkin ada 2 kemungkinan. Pertama Masyarakat Korpri yang tak peduli segala sudut pandangannya sebagai penyebab tidak terjadi apa-apa. Kedua Masyarakat Korpri tidak menginginkannya memang karena dia pokoknya islam seutuhnya tanpa embel-embel organisasi islam. Inilah kemudian Masyarakat Muslim Korpri tidak terlalu memperbesarkan segala aspek ormas kecuali ada unsur kaderisasi baik sesuai pemikirannya atau mengikuti alur pengurus masjidnya.
Tahukah kalian bahwa identitas ormas Muslim di Perumahan Korpri tidak terlalu dipusingkan lantaran Sebagian Masyarakat Muslim Korpri menilai urusan agama bukan urusan pribadinnya. Mereka tak ambil untuk menjalankan perintah pusat ormasnya yang sangat banyak tokoh-tokohnya. Bisa jadi karena bersifat bodo amat menjalankan apa yang tokoh ormas bicarakan. Kemungkinan besar tokoh ormas Muslim Korpri tidak ingin melebih-lebihkan identitasnya mengikuti ormas Muslim hanya saja mengiginkan subjek pemikiran ormasnya untuk bisa dinikmati oleh Masyarakat Muslim Korpri sekitar.
Saya tidak tau persis bagaimana seorang tokoh ormas Muslim Korpri menawarkan dakwah bisa dipelajari oleh Masyarakat setempat. Saya menduga tokoh-tokoh ormas akan melakukan aksinya secara bekerjasama jika dakwahnya dianggap berhasil oleh pusatnya. Bisa dikatakan metodologi dakwahnya merupakan ejawantah idelogi yang ingin mempengaruhi pusat pemikiran Masyarakat Muslim Korpri supaya manut padannya.
A. Idelogi Aswaja
Disamping perbedaan sudut pandang Masyarakat Muslim Korpri ada yang menarik perhatian saya tentang ideloginya yakni Aswaja atau Ahlussunnah Waljama’ah. Ideologi ternyata juga diakui PKS yang secara sadar berada di Zona Masjid Nurul Huda tempatnya bagian Tengah Perumahan Korpri. Aswaja biasannya lebih condong ke NU atau orang-orang pesantren Kitab pada umumnya. Sekitar beberapa bulan yang lalu ada tokoh Pengurus ( Saya tidak mau menjelaskan namannya) Masjid Nurul Huda menjelaskan mengenai Aswaja. Dia langsung mengklaim “Ahlu Sunnah Waljama’ah niku ajarane awakdewe njjeh pak bu, ajaran Dimana 31 Golongan Muslim dan termasuk kita-kita niki njjeh”.
Tentu perkataan ini sangat tidak bijak mengingat tidak semua Masyarakat Muslim Nurul Huda menganut ideologi Aswaja. Kalaupun hampir 90 persen tapi sama sekali tidak mencerminkan identitas ormasnya yang harusnya tidak mengklaim langsung oleh jama’ah umum.
Keputusan ini jelas membuat hati saya tergonjang-ganjing melihat situasi kondisi Masyarakat Korpri Nurul Huda setempat ada setidaknya 30 persen tidak menganut Aswaja. Ya kalau saya sih nggak masalah cuman dia tidak bijak dalam menentukkan arah ideologinya. Biarnamapun idelogi aswaja bisa diakui oleh siapapun namun tak boleh sembarangan membicarakkan aswaja didepan orang awam jika ada 2 hal.
Muslim Korpri Nurul Huda memiliki pemikiran sama dalam sudut pandang meskipun berbeda dalam satu ormas misalnya PKS wargannya NU. Jelas keduannya sama-sama Aswaja. Terakhir yaitu sama-sama diorganisasi dengan jumlah presentase pengikutnya mencapai 90 persen. Dimana pun kita berada tetap saja harus menjaga etika dalam penyampainnya termasuk mimbar kultum di masjid setempat.
B. Ideologi Al-Qur’an dan Sunnah
Hadirnya idelogi Al-Qur’an dan Sunnah juga tak lepas dari peran Muslim Salafi menekankan bahwa keduannya merupakan sumber utama dalam menjangkau islam bentuk ibadah, perbuatan maupun hukum-hukum islam lainnya. Ideologi ini sejatinya berada wilayah Masyarakat Al-Ikhlas, Masjid Ar-Rosyid Sebagian besar adalah orang-orang Salafi sumbernya di Madina Centar dan Pondok Pesantren Ukuwah Sukoharjo. Saya tidak tahu persis apakah kedua masjid tersebut sama pemikiran ormasnya.
Tapi saya menilai keduannya hampir mirip dalam pemahaman. Pada hari-hari besar seperti Idul Adha dan Idul Fitri pasti keduannya mengundang ustadz-ustadz pondok pesantren ideologi sama persisnya. Mereka cenderung tertutup seperti masjid didaerah Perumahan Korpri karena tidak ada akses pengenalan dakwah bisa dinikmati banyak kalangan Muslim Masyarakat Muslim Korpri secara meluas.
Bahkan saya sering mendengar ustadz-ustadz pilihan mereka khususnya Masjid Al-Ikhlas menjelaskan di Mimbar Jum’atan awalannya Muqqodaman Bid’ah. Yang disisipi membicarakan Sunnahnya Kanjeng Nabi Muhammad saw. Dengan menggabungkan sumber-sumber refrensinnya dengan mengaitkan sunnah-sunnah Nabi Muhammad jelas menjadi ciri khas mereka sebagai orang yang kental sebutan kembalinya Qur’an dan Hadits.
Namun ada Juga gaya Islam Modern Muhammadiyah pun ikut terpengaruh yang memaksakkan mereka menjadi bagiannya walaupun pola pemikirannya sangat jauh. Alhasil Muhammadiyah lebih rasional dibanding mereka yang Kaum Salafi. Bahkan beberapa kali Khutbah Jum’at saya mendegar sangat detail “Dalam Pembahasan Surat Al-Maun yang dijelaskan oleh Syeikh Rasyid Ridho Tafsir Al-Manar dijelaskan bahwa Umat Islam diwajibkan menyantuni Anak Yatim sebagaimana Nabi Muhammad saw mengajarinya tentang cara mempraktikkan Sunnah-sunnahnya serta menjalankannya”. Ya benar sekali mereka sering sekali mengutipnya meskipun tidak detail. Namun kadang-kadang mereka jarang mengutipnya. Kebanyakkan mereka menjelaskan secara rinci keadaan, fenomena sering dijumpai dari Ibadah hingga amal kebaikan.
Saya sangat tertarik mendengar mereka mengutip bagian terpentingnya. Karena menurut saya orang-orang Muhammadiyah sudah terbiasa berpikir rasional dan paling penting mereka sangat sistematis Ketika menjelaskan. Malahan pembagiaan makan pada sehabis Sholat Jum’at saja sangat rapi sekali. Benar-benar luar biasa sekali beruntung hidup berdampingan dengan kader Muhammadiyah. Sayangnya keberadaan mereka hanya sebatas sosial orang-orang berbeda dengannya memilih untuk tidak mengambil baik pemikirannya.
Saya bingung jangan-jangan mereka tidak nyampai pemikirannya atau tidak sesuai pemikirannya. Entahlah apa yang dipikiran mereka yang jelas jangan sampai perbedaan menjadi pertengkaran yang tidak pantas dijadikan teladan. Sekali lagi perbedaan bukan berarti mengukit-ngukit kesalahan yang tidak sesuai pola pemikirannya. Namun bisa menambah pengetahuan kita atas rasa kesadaran apa yang harus kita perbuat di Masyarakat.

Komentar
Posting Komentar